10 Manfaat Pendidikan Karakter Sejak Dini 10 Manfaat Pendidikan Karakter Sejak Dini

Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk dijalani bagi siapapun itu, tidak mengenal darimana seseorang berasal, status sosial dan ekonomi, usia, etnis, dan juga ras tertentu. Tidak hanya berhak atas pendidikan, namun juga setiap orang bahkan memiilki kewajiban penuh untuk menempuh jenjang pendidikan. Ada dua jenis pendidikan yang diberikan yaitu pendidikan formal dan juga pendidikan informal. Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing, meskipun dengan manfaat yang hampir sama.

Dari segi isi dan penyamaian materi pendidikan, secara garis besar, kedua jenis pendidikan, baik itu formal dan juga informal terbagi atas beberapa jenis, yaitu :

1. Pendidikan sains dan ilmu pengetahuan

Merupakan salah satu jenis pendidkan yang palin gumum. Meliputi berbagai bidang disiplin ilmu sains dan pengetahuan yang selalu berkembang, seperti matematika, IPA, IPS, Ekonomi, Sejarah, dan sebagainya.

2. Pendidikan keterampilan dan professional
3. Pendidikan moral dan etika

Apa Itu Pendidikan Karakter ??

Salah satu pendidikan yang penting dan seharusnya wajib dijalani oleh setiap orang adalah pendidikan karakter. Dalam pendidikan karakter akan banyak sekali ditemui bgaimana menjadi seorang yang berkarakter. Pendidikan karakter sendiri bisanya terdiri dari banyak hal. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat digolongkan sebagai pendidikan karakter :

  • Pelatihan mental
  • Pendidikan keagamaan dan moral
  • Pendidikan mengenai etika
  • Outbound dan pelatihan kelompok

Pendidikan karakter sendiri saat ini sudah mulai banyak diterapkan. Tidak hanya pada intitusi pendidikan, namun juga pada perusahaan perkantoran, dalam bentuk outing ataupun outbound. Apa saja manfaat pendidikan karakter ini? Berikut adalah beberapa adalah beberapa diantaranya :

1. Membentuk karakter individu

Yang namanya pendidikan karakter, tentu saja tujuan dan juga manfaat utamanya adalah untuk membentuk karakter dari diri individu. karakter merupakan segala sesuatu yang melekat pada diri individu, dan cenderung menetap. Sehingga dengan adanya pendidikan karakter, maka kecenderungan individu untuk memilki karakter yang baik dan juga berguna bagi sesamanya akan terbentuk. Maka dari itu, beberapa pendidikan karakter sangat baik dulakukan kepada para remaja remaja.

2. Membuat individu menjadi lebih menghargai sesama

Seseorang yang berkarakter kuat akan lebih dapat untuk menghargai sesamanya. Kalaupun memang seseorang kurang dapat menghargai sesamanya, dengan adanya pendidikan karakter yang intensif. Tentu saja kemampuan seseorang atau individu untuk menghargai sesamanya manusia akan menjadi lebih meningkat.

3. Menciptakan generasi penerus bangsa yang berintegritas dan juga lebih baik

Karakter yang kuat akan membuat seseorang menjadi teguh dan kokoh dalam hidupnya. Hal ini akan sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, karena dengan adanya keteguhan ini, akan diikuti dengan integritas tinggi dari individu.

Integritas inilah yang penting untuk dibentuk dalam pendidikan karakter, sehingga dengan adanya integritas yang tinggi. Maka seseorang akan mampu untuk menjadi generasi penerus bangsa yang baik dan menjunjung tinggi nilai integritas bagi bangsa dan juga negaranya.

4. Melatih mental dan juga moral dari peserta didik

Manfaat pendidikan karakter sejak dini, selain mampu untuk menciptakan dan menguatkan karakter seseorang, juga bermanfaat untuk meningkatkan serta melatih mental dan juga moral dari para peserta pendidikan karakter. Hal ini akan mencegah terjadinya kondisi mental individu yang bermental tempe dan juga mental malas serta moral yang buruk.

Dengan meningkatnya kondisi mental dan juga moral individu, maka hal ini akan menciptakan suasana yang kondusif dan dapat mencegah terjadinya perpecahan.

5. Agar tidak terjadi kebingungan akan identitas terutama pada remaja

sponsored links

Remaja merupakan “sasaran empuk” dari kebingungan identitas. Karena memang salah satu tugas perkembangan dari remaja adalah untuk mencari identitas. Pendidikan karakter sangat dibutuhkan oleh kaum remaja terutama karena, manfaatnya yang sangat penting untuk mencegah terjadinya kebingungan pada remaja dalam menemukan identitas atau jati dirinya.

6. Agar dapat mengetahui dan memahami karakter diri masing-masing

Berbicara soal jati diri, tidak hanya pada remaja, namun ada juga orang dewasa yang mungkin belum bisa menemukan jati dirinya. Dengan adanya pendidikan karakter, mereka akan lebih mudah menyadari dan juga mengetahui karakter dari diri masing-masing.

7. Menyalurkan hal-hal yang penting sesuai dengan karakter yang dimilkinya

Pendidikan karakter memiliki banyak manfaat. Selain dapat meningkatkan kemampuan mental dan juga moral dari individu, manfaat pendidikan karakter bagi generasi muda juga dapat membantu untuk menyalurkan minat. Hal ini dapat menggunakan karakter yang sudah mereka miliki dan mereka sadari untuk hal yang penting dan bermanfaat. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun juga bagi orang lain.

8. Menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan

Seiring dengan meningkatnya moral dan kemampuan berpikir dari individu melalui pendidikan karakter, maka hal tersebut akan mempengaruhi kemampuan berpikir individu. terutama dalam mengambil keputusan, dengan menempuh pendidikan karakter. Maka seseorang akan menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan, sehingga tidak merugikan diri sendiri dan juga merugikan orang lain.

9. Mampu bekerja sama dengan baik

Pendidikan karakter juga melatih seseorang untuk dapat bekerja sama dengan baik, sehingga hal ini juga akan membuat seseorang menjadi lebih mudah dalam bergaul dan menjalin hubungan sosial dengan orang lain.

10. Meningkatkan kualitas problem solving individu

Pengalaman yang diperoleh melalui pendidikan karakter, dan juga pemahaman mengenai moral, mental dan juga bijaksana akan membuat seseorang yang sudah menempuk pendidikan karakter, setidaknya dapat meningkatkan kualitas mereka dalam hal pemecahan masalah atau problem solving. Hal ini erat kaitannya dengan cara berpikir yang lebih baik dan juga pemanfaatan karakter dari diri individu dalam memecahkan masalah.

Itulah manfaat pendidikan karakter yang sangat penting. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan anda mengenai manfaat dari pendidikan karakter.

Advertisemen
Advertisements

Tujuan Pendidikan Karakter

Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Tujuan jangka panjangnya tidak lain adalah mendasarkna diri pada tanggapan aktif kontekstual individu atas impuls natural sosial yang diterimanya, yang padagilirannya semakin mempertajam visi hidup yang akan diraih lewat proses pembentukan diri secara terus-menerus.Tujuan jangka panjang ini merupakan pendekatan dialektis yang semakin mendekatkan dengan kenyataa yang idea, melalui proses refleksi dan interaksi secara terus menerus antara idealisme, pilihan sarana, dan hasil langsung yang dapat dievaluasi secara objektif.
Pendidikan Karakter juga bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi kelulusan. Melalui pendidikan karakter, diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuaannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Pendidikan karakter, pada tingkatan institusi, mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah masyarakat sekitar. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.
Tujuan mulia pendidikan karakter ini akan berdampak langsung pada prestasi anak didik. Menurut Suyanto, ada beberapa penelitian yang menjelaskan dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik.
Sebuah bukuu yang berjudul Emotional Intelligence and School Succes (Joseph Zink dkk., 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. DIkatakan bahwa ada sederet faktor-faktor penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor risiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.
Hal itu sesuai sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. Menurutnya 80% keberhasilan seseorang di masyarakat dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya akan mengalami kesulitan belajar, bergaul, dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia prasekolah, dan jika tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya, para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti  tawuran, narkoba, miras, seks bebas dan lain sebagainya.
Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.

Strategi Menerapkan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan Terbaru Strategi Menerapkan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan Terbaru

Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang ditekankan di Indonesia saat ini. Alasan tersebut dikarenakan problem moral penduduk di Indonesia sudah sangat fatal. Sehingga hal ini menjadikan pemerintah harus lebih serius menangani problem pendidikan tersebut.
Pada tahun 2011, menteri pendidikan dan kebudayaan (MENDIKBUD) mulai menghimbau untuk menerapkan Pendidikan Karakter di seluruh lembaga pendidikan di Indonesia. Menurut Wikipedia Pendidikan Karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.
Strategi Menerapkan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan

Strategi Menerapkan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan

Lantas bagaimana Strategi Menerapkan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan? Penerapan pendidikan karakter dapat dilakukan dengan strategi pengintegrasian yaitu memadukan, menggabungkan, atau menyatukan antara kepentingan guru dengan peserta didik melalui sebuah program kegiatan. Strategi tersebut dilakukan melalui 2 cara, yaitu pengintegrasian dalam kegiatan sehari-hari dan pengintegrasian dalam kegiatan yang diprogramkan.
Pengintegrasian dalam kegiatan sehari-hari dapat dilakukan melalui cara berikut:

1.    Keteladanan atau contoh

Kegiatan pemberian keteladanan atau contoh ini bisa dilakukan oleh kepala sekolah, guru, atau staf administrasi di sekolah yang dapat dijadikan model bagi peserta didik.

2.    Kegiatan spontan

Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilaksanakan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap atau tingkah laku peserta didik yang kurang baik, seperti meminta sesuatu dengan berteriak, mencoret dinding.

3.    Teguran

Guru perlu menegur peserta didik yang melakukan perilaku buruk dan mengingatkannya agar mengamalkan nilai-nilai yang baik sehingga guru dapat membantu mengubah tingkah laku mereka.

4.    Pengkondisian lingkungan

Suasana sekolah dikondisikan sedemikian rupa dengan penyediaan sarana fisik. Contoh: penyediaan tempat sampah, jam dinding, slogan-slogan mengenai budi pekerti yang mudah dibaca oleh peserta didik, aturan tata tertib sekolah yang ditempelkan pada tempat yang strategis sehingga setiap peserta didik mudah membacanya.

5.    Kegiatan rutin

Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus-menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah berbaris masuk ruang kelas, berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain, membersihkan kelas atau belajar.
Pengintegrasian dalam kegiatan yang diprogramkan dilaksanakan setelah terlebih dahulu guru membuat perencanaan atas nilai-nilai yang akan diintegrasikan dalam kegiatan tertentu. Hal ini dilakukan jika guru menganggap perlu memberikan pemahaman atau prinsip-prinsip moral yang diperlukan. Misalnya, guru ingin menanamkan rasa kebersamaan, gotong royong, dapat dilakukan dengan mengadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan sekolah.
Apabila semua strategi di atas sudah dijalankan, kemudian sekolah harus mempunyai program yang nyata untuk menilai keberhasilan pendidikan karakter, misalnya membuat kantin kejujuran, agar anak mempunyai kesempatan untuk mempraktikkan nilai kejujuran. Atau dengan membuat indeks penilaian kebersihan, misalnya  dengan menghitung sampah yang tidak dibuang di tempat sampah, dan lain sebagainya.
Penerapan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap kegiatan sekolah, diharapkan mampu membentuk karakter anak dan secara lebih luas dapat membentuk karakter bangsa, sehingga tidak ada lagi problem moral yang berkepanjangan di  Indonesia.

PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

Tentu kita masih ingat dengan Gayus Tambunan, mafia pajak yang mempunyai rekening fantastis dari hasil kongkalikong dengan pengusaha hitam dalam memanipulasi pajak, atau Ahmad Fathanah yang sering memanjakan wanita-wanita cantik dengan uang haramnya. Tentu kita juga sering mendengar dan melihat berita kasus-kasus tawuran antar pelajar. Ini hanya beberapa contoh kasus dari ratusan bahkan mungkin ribuan kasus penyimpangan moral yang terjadi di negeri ini. Kalau mau disebutkan satu-persatu, satu postingan juga tidak selesai. Apakah bangsa ini sedang mengalami apa yang disebut degradasi moral ?

Banyak spekulasi dan teori berkembang dalam mengidentifikasi penyebab permasalahan itu. Ada yang menyatakan bahwa hal itu disebabkan karena globalisasi yang telah membawa kita pada “penuhanan” materi sehingga terjadi ketidakseimbangan antara pembangunan ekonomi dan tradisi kebudayaan masyarakat. Ada yang menyalahkan gagalnya sistem pendidikan kita dalam membina karakter peserta didik, dan masih banyak lagi.

Saya tidak ingin membahas dan berspekulasi untuk mencari faktor penyebab maraknya kasus penyimpangan moral yang terjadi di negeri ini. Tetapi lebih ingin menegaskan pentingnya pendidikan karakter diterapkan sejak dini, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun pada pendidikan formal. Pada postingan ini hanya difokuskan pada penerapan pendidikan karakter dalam pendidikan formal khususnya pendidikan dasar dan menengah.

Apa sebenarnya pendidikan karakter itu ? Pendidikan karakter adalah usaha yang disengaja untuk menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, dengan keteladanan dan pengajaran karakter yang baik, untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Apabila melihat pengertian di atas, maka dalam pendidikan karakter memuat dimensi penanaman dan pengamalan.

Kemudian bagaimana penerapan pendidikan karakter pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah ? Kalau berbicara dalam konteks pembelajaran di kelas, maka saat ini, pendidikan karakter belum masuk dalam kurikulum yang berdiri sendiri. Pelajaran yang menjadi rumah utama bagi pendidikan karakter adalah PKn, agama, olahraga, atau bahasa Indonesia. Ada banyak tema Bahasa Indonesia yang memuat bacaan dengan tema karakter tertentu. Selain melalui mata pelajaran tersebut, pendidikan karakter juga harus diterapkan  di sela-sela pelajaran sehingga saat ini, pada silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)  harus mencantumkan karakter yang diharapkan pada setiap materi dan pokok bahasan di semua mata pelajaran. Perlu analisis yang mendalam terhadap suatu konsep materi untuk menentukan karakter yang harus ditanamkan. Selain itu, perlu kecerdikan dan kreativitas guru dalam menanamkan nilai-nilai karakter tersebut pada proses pembelajaran.

Penerapan dalam pembelajaran hanya sebagian kecil dari strategi penerapan pendidikan karakter pada pendidikan dasar dan menengah. Bagaimanakah strategi penerapan pendidikan karakter dalam semua kegiatan di sekolah ? Penerapan pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai strategi pengintegrasian. Strategi yang dapat dilakukan adalah (1) pengintegrasian dalam kegiatan sehari-hari, dan (2) pengintegrasian dalam kegiatan yang diprogramkan.

Pengintegrasian dalam kegiatan sehari-hari dapat dilakukan melalui cara berikut.

  1. Keteladanan/contoh

Kegiatan pemberian contoh/teladan ini bisa dilakukan oleh kepala sekolah, guru, atau staf administrasi di sekolah yang dapat dijadikan model bagi peserta didik.

  1. Kegiatan spontan

Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilaksanakan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku peserta didik yang kurang baik, seperti meminta sesuatu dengan berteriak, mencoret dinding.

  1. Teguran

Guru perlu menegur peserta didik yang melakukan perilaku buruk dan mengingatkannya agar mengamalkan nilai-nilai yang baik sehingga guru dapat membantu mengubah tingkah laku mereka.

  1. Pengkondisian lingkungan

Suasana sekolah dikondisikan sedemikian rupa dengan penyediaan sarana fisik. Contoh: penyediaan tempat sampah, jam dinding, slogan-slogan mengenai budi pekerti yang mudah dibaca oleh peserta didik, aturan tata tertib sekolah yang ditempelkan pada tempat yang strategis sehingga setiap peserta didik mudah membacanya.

  1. Kegiatan rutin

Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus-menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah berbaris masuk ruang kelas, berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain, membersihkan kelas/belajar.

Pengintegrasian dalam kegiatan yang diprogramkan dilaksanakan setelah terlebih dahulu guru membuat perencanaan atas nilai-nilai yang akan diintegrasikan dalam kegiatan tertentu. Hal ini dilakukan jika guru menganggap perlu memberikan pemahaman atau prinsip-prinsip moral yang diperlukan. Misalnya, guru ingin menanamkan rasa kebersamaan, gotong royong, dapat dilakukan dengan mengadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan sekolah.

Apabila semua strategi di atas sudah dijalankan, bagaimana menilai keberhasilan pendidikan karakter ? Untuk itu, sekolah harus mempunyai program yang nyata misalnya kantin kejujuran, agar anak mempunyai kesempatan untuk mempraktikkan nilai kejujuran. Atau dengan membuat indeks penilaian kebersihan, misalnya  dengan menghitung sampah yang tidak dibuang di tempat sampah, dan lain sebagainya.

Penerapan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap kegiatan sekolah, diharapkan mampu membentuk karakter anak dan secara lebih luas dapat membentuk karakter bangsa, sehingga tidak ada lagi kasus-kasus seperti Gayus Tambunan, Ahmad Fathanah dan lain-lain.

Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Pendidikan orang dewasa akan menjadi efektif dalam arti menghasilkan perubahan perilaku, apabila isi dan cara pendidikannya sesuai dengan kebutuhan yang dirasakannya atau dengan kata lain materi dan metodenya berorientasi atau berpusat pada pembelajar (learner centered).

Oleh: Tina Afiatin Yatimin | Ketua Badan Urusan Pemuda PB GAI

Banyak cara dan sarana untuk menyelamatkan keluarga, baik keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak. Salah satu cara adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan sarana penting dalam proses pembentukan manusia seutuhnya. Melalui pendidikan, potensi-potensi manusia dapat dikembangkan dan diaktualisasikan sehingga manusia mampu menjadikan diri dan lingkungannya menjadi lebih sejahtera dan lebih baik, atau dengan kata lain menjadi manusia yang mulia. Tujuan pendidikan untuk memuliakan manusia dapat tercapai apabila proses pendidikan yang berlangsung dapat memfasilitasi pengembangan potensi manusia sebagai makhluk biososiopsikoreligius. Dengan demikian, lembaga pendidikan bertugas untuk mengembangkan kecerdasan intelektual, sosial, emosional, praktikal,serta moral dan spiritual.

Dalam perjalanan proses pendidikan yang berlangsung di Indonesia, tampak adanya kesenjangan dalam memfasilitasi pengembangan potensi-potensi tersebut, sehingga menimbulkan disharmoni yang justru mengancam kesejahteraan dan kemuliaan manusia. Semakin tingginya angka kemiskinan, kriminalitas, kekerasan, dan kerusakan alam merupakan indikasi belum tercapainya tujuan pendidikan kita.

Menurut Azra (2002) pendidikan nasional dalam berbagai jenjang, khususnya jenjang menengah dan tinggi “telah gagal” dalam membentuk peserta didik yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik. Selanjutnya dikemukakan analisis beberapa masalah pokok yang turut menjadi akar krisis mentalitas dan moral di lingkungan pendidikan nasional, diantaranya adalah: pertama, arah pendidikan telah kehilangan objektivitasnya, lembaga pendidikan tidak lagi merupakan tempat peserta didik melatih diri untuk berbuat sesuatu berdasarkan nilai-nilai moral; kedua, proses pendewasaan diri tidak berlangsung baik di lingkungan lembaga pendidikan; ketiga, proses pendidikan sangat membelenggu peserta didik dan guru/dosen; keempat, beban kurikulum terlalu berat dan hampir sepenuhnya diorientasikan pada pengembangan ranah kognitif belaka; kelima, materi pendidikan yang dapat menumbuhkan rasa afeksi umumnya disampaikan dalam bentuk verbalisme dengan rote-memorizing; keenam, pada saat yang sama peserta didik dihadapkan kepada nilai-nilai yang sering bertentangan; dan ketujuh, para peserta didik mengalami kesulitan dalam mencari contoh teladan yang baik. Masalah-masalah tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain sehingga upaya mengatasinya tidak dapat dilakukan secara parsial tetapi diperlukan reformasi pendidikan nasional. Reformasi tersebut salah satunya adalah memberikan pendidikan karakter bagi masyarakat.

Karakter adalah sifat-sifat mental, moral atau akhlak yang kuat dan khas, yang  membuat pemilik sifat-sifat tersebut berbeda dengan yang lain. Membangun karakter adalah proses mengukir jiwa, sehingga terbentuk jiwa yang unik, menarik dan lain daripada yang lain. Karakter tidak dapat dikembangkan dalam kemudahan dan ketenangan. Hanya melalui pengalaman cobaan dan penderitaan jiwa dapat dikuatkan. Pendidikan karakter adalah pendidikan sepanjang hayat melalui pengalaman sehari-hari. Pendidikan karakter dapat dilaksanakan baik melalui pendidikan formal di sekolah, informal dalam keluarga, dan non formal dalam masyarkat. Integrasi dan sinergi Tri Pusat Pendidikan inilah yang diharapkan mampu mewujudkan keberhasilan pendidikan karakter bagi masyarakat kita.

Pendidikan Karakter dalam Keluarga
Anak adalah pusat pendidikan dan pembelajaran dalam keluarga. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anak hendaknya berorientasi pada kebutuhan anak sebagai makhluk biopsikososialreligius serta menggunakan cara-cara yang sesuai dengan perkembangan anak, baik perkembangan fisik-biologisnya, perkembangan psikisnya, perkembangan sosial serta perkembangan religiusitasnya.

Dalam perkembangannya, anak-anak, khususnya yang telah mencapai usia remaja, telah mempunyai sikap tertentu, pengetahuan tertentu, dan ketrampilan tertentu. Remaja bukan seperti gelas kosong yang dengan mudah dapat diisikan sesuatu. Dengan demikian diperlukan pendekatan yang berbeda dalam pendidikan bagi remaja. Pendidikan bagi remaja hendaknya mengacu pada prinsip pendidikan orang dewasa. Lindeman (dalam Knowles,2005) menggambarkan karakteristik pembelajar dewasa sebagai berikut:

  • orang dewasa termotivasi untuk belajar bila terkait dengan kebutuhan dan interes pribadinya;
  • orientasi orang dewasa untuk belajar adalah berpusat pada kehidupan;
  • pengalaman merupakan sumber belajar yang kaya bagi pembelajar dewasa;
  • orang dewasa memiliki kebutuhan mendalam untuk mengarahkan diri sendiri;, dan
  • perbedaan antar individu meningkat dengan bertambahnya usia.

Berdasar karakteristik tersebut maka  pendidikan orang dewasa akan menjadi efektif dalam arti menghasilkan perubahan perilaku, apabila isi dan cara pendidikannya sesuai dengan kebutuhan yang dirasakannya atau dengan kata lain materi dan metodenya berorientasi atau berpusat pada pembelajar (learner centered).

Berdasarkan definisi tersebut dapat diketahui bahwa pembelajaran berpusat peserta didik menggunakan fokus ganda yaitu individu pembelajar dan pembelajaran, selanjutnya dengan berdasar pada kedua fokus tersebut akan memberikan informasi dan dorongan dalam pengambilan keputusan dalam proses pendidikan.

Penjabaran dari definisi yang telah dikemukakan tersebut, selanjutnya dinyatakan ada lima faktor yang penting diperhatikan dalam prinsip psikologis pembelajaran berpusat pada anak, yaitu:

  • faktor metakognitif dan kognitif yang menggambarkan bagaimana anak berpikir dan mengingat, serta penggambaran faktor-faktor yang terlibat dalam proses pembentukan makna informasi dan pengalaman;
  • faktor afektif yang menggambarkan bagaimana keyakinan, emosi, dan motivasi mempengaruhi cara seseorang menerima situasi pembelajaran, seberapa banyak orang belajar, dan usaha yang mereka lakukan untuk mengikuti pembelajaran.Kondisi emosi seseorang, keyakinannya tentang kompetensi pribadinya, harapannya terhadap kesuksesan, minat pribadi, dan tujuan belajar, semua itu mempengaruhi bagaimana motivasi anak untuk belajar;
  • faktor perkembangan yang menggambarkan bahwa kondisi fisik, intelektual, dan  emosional dipengaruhi oleh faktor genetik yang unik dan faktor lingkungan;
  • faktor pribadi dan sosial yang menggambarkan bagaimana orang lain berperan dalam proses pembelajaran dan cara-cara orang belajar dalam kelompok. Prinsip ini mencerminkan bahwa dalam interaksi sosial, orang akan saling belajar dan dapat saling menolong melalui saling berbagi perspektif individual;
  • faktor perbedaan individual yang menggambarkan bagaimana latar belakang individu yang unik dan kapasitas masing-masing berpengaruh dalam pembelajaran. Prinsip ini membantu menjelaskan mengapa individu mempelajari sesuatu yang berbeda, waktu yang berbeda, dan dengan cara-cara yang berbeda pula.

Pembelajaran berpusat pada anak mendasarkan pada filosofi konstruktivisme, bahwa pengetahuan harus dibangun dan dikembangkan oleh pembelajar. Dalam pengembangan lingkungan pembelajaran maka karakteristik konstruktivisme meliputi hal-hal sebagai berikut:

  • institusi pendidikan menciptakan lingkungan nyata untuk pembelajaran yang relevan;
  • pembelajaran difokuskan pada pendekatan realistik untuk pemecahan masalah nyata;
  • dosen/guru berfungsi sebagai instruktur, pelatih, dan penganalisis strategi yang digunakan untuk memecahkan masalah;
  • penekanan pembelajaran pada karakteristik konseptual, menyediakan berbagai macam contoh atau perspektif isi pembelajaran;
  • sasaran dan tujuan pembelajaran harus disesuaikan dengan keadaan, bukannya ditetapkan begitu saja;
  • evaluasi harus dikontrol secara internal sebagai alat analisis diri;
  • institusi menyediakan instrument dan lingkungan untuk membantu para peserta didik menginterpretasikan berbagai perspektif yang ada di dunia ini; dan
  • pembelajaran harus sepenuhnya dikendalikan secara internal dan dimediasi oleh pembelajar.

Berdasarkan perspektif konstruktivisme tersebut maka dapat dinyatakan bahwa pembelajaran  merupakan individual discovery. Pada hakekatnya semua anak memiliki gagasan/pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa/gejala lingkungan di sekitarnya. Sebagaimana dinyatakan oleh John Dewey (dalam Afiatin, 2005) bahwa pembelajaran sejati lebih berdasar pada penjelajahan yang terbimbing dengan pendampingan daripada sekedar transmisi pengetahuan. Pembelajaran memberikan kesempatan dan pengalaman dalam proses pencarian informasi, menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan bagi kehidupan pembelajar sendiri. Kegiatan pembelajaran dimulai dari “apa yang diketahui anak”. Dosen/guru/orang tua tidak dapat mengindoktrinasi gagasannya supaya anak mengganti gagasan yang telah dimiliki. Arsitek pengubah gagasan anak adalah anak sendiri dan dosen/guru/orang tua  berperan sebagai fasilitator dan penyedia kondisi supaya proses belajar dapat berlangsung. Melalui pembelajaran yang berpusat pada anak yang mendasarkan pada filosofi kontruktivisme ini maka fungsi dosen/guru/orang tua berubah dari pengajar menjadi mitra pembelajaran (fasilitator).

Menurut Knowles, dkk (2005) perubahan peran dari pengajar (teacher) menjadi fasilitator pembelajaran memerlukan sejumlah ketrampilan yang berbeda. Sebagai pengajar berfungsi sebagai perencana dan penyampai isi materi pengetahuan sehingga sangat diperlukan ketrampilan presentasi. Sementara sebagai fasilitator berfungsi sebagai perancang dan pengelola memerlukan ketrampilan dalam membangun hubungan baik, mampu melakukan pengukuran kebutuhan, melibatkan anak dalam perencanaan, menghubungkan anak dengan sumber-sumber belajar, dan memunculkan inisiatif anak.

Fasilitator (Dosen/Guru/Orang tua) pada pembelajaran berpusat pada anak perlu memiliki karakteristik dan bekerja berdasar asumsi bahwa semua anak memiliki potensi untuk belajar. Dalam upaya memaksimalkan pembelajaran, fasilitator perlu membantu para peserta didik agar mereka merasa nyaman mendiskusikan perasaan dan keyakinan mereka. Memperhatikan dan peduli terhadap kebutuhan sosial, emosional, dan fisik anak  merupakan hal yang sangat penting dimunculkan dalam pembelajaran. Fasilitator perlu membantu anak memahami bagaimana keyakinan mereka terhadap diri mereka sendiri mempengaruhi pembelajaran. Ketika fasilitator merasa rileks dan nyaman dengan diri mereka sendiri, maka mereka memiliki akses untuk mencapai kebijaksanaan alamiah untuk mengatasi berbagai kesulitan dalam proses pembelajaran. Dalam menjalankan fungsinya sebagai fasilitator pembelajaran, diperlukan pengetahuan dan ketrampilan untuk memfasilitasi pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran yang dapat menumbuhkan suasana pembelajaran yang nyaman, aktif, dan inovatif serta mendorong pembelajar yang aktif, partisipatif, kritis, kreatif, bertanggung jawab, bermanfaat dan sukses.

Fasilitator adalah pribadi yang berkarakter sehingga ia akan mampu memberikan teladan, mampu memberikan motivasi dan semangat belajar, serta mampu mendorong dan menguatkan anak untuk terus menerus meningkatkan kualitas diri. Pada hakekatnya seorang fasilitator adalah pembelajar sejati (life long learner) karena dalam proses pembelajaran, seorang fasilitator juga mengalami proses belajar, Seorang fasilitator akan dapat menjadi teladan yang baik dan efektif apabila ia telah memiliki apa yang akan diteladankan. Pada hakekatnya kita hanya dapat memberikan apa yang sudah kita miliki, bukan apa yang kita inginkan.

Peran fasilitator seperti yang telah dikemukakan di atas sangat sesuai denga apa yang telah diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara, bahwa seorang pendidik adalah juga seorang pemimpin. Dalam melaksanakan kepemimpinannya, pendidik harus menerapkan Patrap Triloka:

Ing ngarso sung tulada”
“Ing madya mangun karsa”
“ Tut wuri Andayani”

yang berarti bahwa, seorang pemimpin ketika ia di depan memberikan teladan, di tengah membangkitkan semangat dan motivasi, dan ketika di belakang dapat mendorong dan menguatkan. Dalam melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran, seorang fasilitator harus kreatif dan bijaksana dalam memilih metode pembelajaran yang akan diterapkannya. Pembelajaran berpusat pada anak yang mendasarkan pada teori adult learning juga menggunakan pendekatan belajar pengalaman (experiential learning) untuk memfasilitas proses pembelajaran.

Belajar Pengalaman dalam Keluarga
Salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk pembelajaran dalam keluarga adalah metode belajar pengalaman (experiential learning). Menurut Lunandi (1993) metode pembelajaran dengan eksperiensial (dengan jalan mengalami), juga dikenal sebagai “pendekatan laboratories” memiliki manfaat sangat besar dalam pendidikan orang dewasa yang bertujuan meningkatkan ketrampilan dalam hubungan antar manusia, perubahan perilaku, dan kerja sama dalam organisasi. Belajar dari pengalaman buatan  ini dianggap efektif apabila peserta didik menjalani proses menurut lingkaran yang disebut The Experiential Learning Cycle. Proses belajar yang didasarkan atas pengalaman terjadi menurut suatu pola yang bermula dari sebuah pengalaman, lalu berlanjut pada perenungan dan analisa mengenai makna pengalaman itu dan mengenai kelanjutannya. Dalam experiential learning, pengalaman diciptakan dalam suatu situasi belajar. Melalui pengalaman ini akan memberi orang pelajaran dan bahwa belajar dari pengalaman atau arti suatu pengalaman bergantung dari pengolahan oleh orang yang mengalami itu sendiri. Melalui proses pembelajaran yang difasiltasi oleh fasilitator pembelajaran yang profesional , orang itu akan menemukan sendiri pelajaran yang dapat ditarik dari pengalamannya .

Afiatin (2001) menyatakan bahwa model belajar pengalaman (experiential learning) memungkinkan individu memperoleh informasi yang melibatkan asosiasi berbagai indra, mengandung konteks emosional, asosiasi yang intens serta menggunakan modalitas belajar yang kaya, yaitu secara visual, auditorial, dan kinestetik. Melalui model ini individu dapat belajar secara utuh, yaitu melibatkan aspek kognisi, afeksi, dan konasi. Model belajar pengalaman ini perlu dipertimbangkan sebagai model pembelajran non-tradisional. Hal ini mengingat kenyataan yang ada saat ini bahwa pembelajaran diasosikan dengan konsep sekolah, di ruang kelas, dosen/guru memberikan informasi dengan ceramah saja. Pembelajaran menjadi bersifa didaktis (bersifat instruktif, bergantung pada guru/dosen,  mencapai target kurikulum yang telah ditetapkan), sehingga kesempatan individu untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing kurang dapat teraktualisasi. Melalui model belajar pengalaman individu dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya karena model belajar pengalaman bersifat aktif, self-directed, dan meliputi aspek kognisi, afeksi, dan konasi. Melalui model belajar pengalaman, selain dapat meningkatkan kualitas memori, juga tepat untuk mengajarkan suatu ketrampilan, misalnya mengajarkan ketrampilan untuk mendengarkan dengan penuh empati, ketrampilan konseling, ketrampilan menggunakan komputer, ketrampiulan menyelesaikan masalah secara efektif, dsb.

Belajar pengalaman dalam keluarga dapat diterapkan bagi semua anggota keluarga melalui kehidupan sehari-hari. Misalnya untuk memberikan kemampuan berdisiplin dan bertanggung jawab, anggota keluarga dapat memilih sendiri pekerjaan rumah tangga yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Dalam pelaksanaan tugas tersebut anggota keluarga memonitor sendiri pelaksanaannya serta mendapatkan umpan balik dari anggota keluarga yang lain. Misalnya, kakak memilih untuk tugas menyiram pot bunga maka ibu, bapak, dan adik dapat memberikan umpan balik atas kinerja kakak. Demikian juga untuk penanaman kebiasaan baik, misalnya: kejujuran, kerja keras, suka menolong, dilakukan melalui keteladan nyata dan umpan balik bersama seluruh anggota keluarga.

Peran orang tua dalam pendidikan karakter adalah sebagai fasilitator. Orang tua bertugas merancang, melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi hasil pendidikan karakter bagi seluruh anggota keluarga secara berkesinbambungan. Dalam proses merancang melibatkan perencanaan materi yang akan diajarkan dan ditanamkan, metode, dan settingnya. Materi pendidikan karakter meliputi pengetahuan dan nilai-nilai, baik nilai agama, sosial, dan keluarga. Melalui metode belajar pengalaman, materi pengetahuan dan nilai-nilai dilaksanakan dan diintegrasikan dalam kehidupan seharai-hari. Misalnya tentang pengetahuan dan nilai “Pola Hidup Sehat”, orang tua dapat mengajarkan dengan cara memberikan informasi dan contoh baik tentang : makan sehat, yaitu dengan pola makan dengan gizi seimbang, aktivitas sehat, istirahat cukup, pikiran sehat, pengelolaan emosi secara sehat, aktivitas sosial sehat, pengelolaan waktu efektif-efisien dengan kegiatan produktif dan bermanfaat, peka terhadap lingkungan dan mampu menyesuaikan diri dengan baik, dan berkehidupan beragama dengan baik. Orang tua mampu menciptakan suasana kehidupan keluarga yang harmonis, penuh rasa aman dan nyaman sehingga semua anggota keluarga dapat bertumbuh dan berkembang bersama.

Pendidikan Karakter dalam Keluarga
Pendidikan karakter merupakan upaya integratif dan komprehensif yang bertujuan membentuk dan mengembangkan potensi kemanusiaan sehingga menghasilkan generasi yang kompeten dan berwatak (berakhlak) mulia. Upaya ini harus melibatkan semua pihak, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama tidak ada harmonisasi dan kesinambungan antara ketiga lingkungan tersebut.

Usaha pembentukan dan pendidikan karakter melalui lembaga keluarga dapat dilakukan setidaknya melalui pendekatan: modelling, prizing (memberi penghargaan), cherising (menumbuhsuburkan) nilai-nilai yang baik dan discouraging (mengecam) dan mencegah berlakunya nilai-nilai yang buruk, membiasakan bersikap dan bertindak dengan pola-pola yang baik yang diulangi secara terus menerus dan konsisten. Dengan demikian perlu adanya reorientasi dalam proses pendidikan dalam keluarga baik dalam segi isi/muatan dan pendekatan sehingga proses pendidikan  tidak hanya bersifat verbalism ,misalnya pemberian nasehat saja, tetapi juga disertai keteladanan, kebersamaan dan berorientasi pada terciptanya akhlak mulia untuk semua anggota keluarga.

Pendidikan karakter dalam keluarga merupakan amanah bagi kita semua. Pemahaman tentang hakekat pendidikan keluarga yang islami serta penerapanya dalam kehidupan sehari-hari merupakan wujud tanggung jawab kita sebagai umat Islam. Kontribusi nyata kita dalam mewujudkan generasi muslim yang berkualitas sangat diharapkan. Semoga kita senantiasa memperoleh ridlo dan bimbingan dari Allah SWT  serta terus menerus berikhtiar di jalan yang DiridloiNya untuk dapat mewujudkan generasi penerus, muslim sejati. Amiin.

Pendidikan Karakter Dalam Kehidupan Sehari-hari

Saat ini tulisan-tulisan tentang pendidikan karakter sudah begitu banyaknya dan salah satunya adalah tulisan singkat ini. dalam tulisan ini, pendidikan karakter akan dibedah dalam konteks kehidupan sehari-hari, dimana maksudnya akan lebih memudahkan bagi pemahamannya. Dalam arti kata tidak bermaksud untuk mereduksi pemahaman pendidikan karakter yang begitu luas dan mendalam melainkan sebagai salah satu pintu masuk untuk memhamainya. Oleh karena itu pada ulasan-ulasan sesudahnya akan dibedah tentag arti dari pendidikan karakter dan bagaimana relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Atau dalam bahasa konstruksi teori (construction of theory) adalah ontology, epistemology dan aksiology.

Pendidikan karakter diartikan sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Berpijak pada definisi sebelumnya tampak bahwa pendidikan karakter sebenarnya adalah suatu proses bagaimana agar seorang manusia mampu berdikari sepanjang hidupnya berlandaskan nilai-nilai tertentu, dan apabila menurut Departemen Pendidikan maka nilai itu berjumlah 18 nilai. Lanjut bahwa i8 nilai sebelumnya merupakan suatu panduan yang kokoh namun tidak menutup kemungkinan adanya penambahan nilai-nilai lainnya. Hal ini menimbang bahwa nilai-nilai karakter tersebut dapat juga berasal dari kearifan lokal atau biasa disebut sebagai pengetahuan lokal.

Sehubungan dengan esensi dari pendidikan karakter itu, dapat ditarik benang merah bahwa kemanfaatan pendidikan karakter bukan saja dominan menjadi tanggung jawab suatu institusi pendidikan melainkan juga diaplikasikan dalam konteks kehidupan masyarakat terkecil. Dan menurut penulis hal inilah yang perlu dilakukan karena proses penanaman nilai-nilai karakter tersebut apabila mendapatkan respon dan fokus positif untuk dikembangkan dalam keluarga maka hasilnya akan sangat meningkat. Untuk itu perlu adanya kesadaran dari pihak ornag tua untuk tetap berusaha menanam nilai-nilai karakter pada nak-anaknya sehingga akan menjadi suatu kebiasaan (habits).

Mengapa perlu menjadikan sebagai suatu kebiasaan, karena apabila berhasil maka anak-anak yang dididik tersebut akan benar-benar mampu mengaplikasikannya dengan tepat tanpa harus mendapatkan kontrol atau paksaan, Dengan kata lain, pelaksanaan nilai-nilai karakter akan dilakukan berdasarkan kesadaran diri. Lanjut bahwa hal ini memberi suatu pencerahan bahwa perilaku yang menunjukkan karakter yang bagus akan benar-benar menjadikan seseorang lebih memahami kebermanfatan dirinya dalam menaungin hidup dan penuh kesejehteraan.

Guna memperjelas, aplikasi pendidikan karakter dalam kehidupan keluarga akan tampak dari bagaimana peran orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya. Seperti bagaimana ornag tua menanamkan disiplin diri yang berlandaskan pada pemberian reward dan punishment yang sehat. Dalam hal ini, penulis tidak bermaksud untuk membuat suatu pemisahan bahwa anak-anak harus dididik dengan keras melainkan dengan penuh kasih sayang. Nalarnya adalah aplikasi pendidikan karakter merupakan salah satu buah dari kasih sayang ornag tua pada anaknya sehingga peran ornag tua dalam mendidik anak berbasiskan kasih sayang akan sangat membantu meretaskan nilai-nilai karakter tersebut kedalam pikiran bawah sadar anak dan hal ini merupakan suatu keuntungan bagi orang tua karena seiring berjalannya usia dan ketika anak telah berjenjang remaja hingga seterusnya maka anak itu akan berperilaku yang bagus alias berkarakter mantap.

Tidak hanya itu saja, aplikasi pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari juga meliputi bagaimana proses penanaman nilai-nilai hidup tersebut melalui komunikasi yang baik dan terarah. Dalam hal ini maka orang tua perlu menyisihkan waktu yang konsisten untuk membangun komunikasi yang sekali lagi berbasiskan kasih sayang. Menimbang bahwa dalam komunikasi yang berbasiskan kasih sayang maka anak akan merasa dirinya dihargai dan disayangi oleh orang tuanya dan akan membentuk karakter penyayang dan berkontribusi kelak dalam kehidupannya.

Lanjut bahwa aplikasi lain yang dapat digunakan orang tua dalam mendidik anak-anak untuk memiliki karakter bagus adalah melalui kegiatan bersama yang sifatnya membagi tanggung jawab bersama dalam keluarga sehingga anak akan dibesarkan dalam kehidupan yang benar-benar memiliki benteng tanggung jawab yang kokoh dan tepat. Dengan demikian, dalam tulisan singkat ini diharapkan bagaimana aplikasi pendiidkan karakter menjadi salah satu prioritas orang tua untuk mendidik anak-anaknya melalui contoh-contoh nyata dalam kehidupan sehari dan berefek lanjutan menjadi suatu kebiasaan unggul yang merupakan modal dasar bagi si anak untuk berlayar dalam siklus kehidupannya. Akhir kata, Selamat direnugi dan diaplikasikan…..

18 Nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa

Ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas.  Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya.

18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut Diknas adalah:

1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13. Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

14. Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber: Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa, oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, 2010

***

Apakah inisiatif pendidikan karakter di sekolah ini akan berhasil atau hanya sekedar menjadi dokumen formalitas belaka, mari kita lihat. Salah satu indikator sederhana yang bisa kita lihat bersama adalah apakah kecurangan UN akan hilang atau tetap saja tak berubah seperti biasanya.

Implementasi Pendidikan Karakter pada Siswa

Pendidikan karakter ada 18 nilai dan harus ada implementasi pendidikan karakter tersebut yang dicanangkan oleh Depdiknas atau Departemen Pendidikan Nasional, yaitu keagamaan atau religius, sifat jujur, toleransi, disiplin, mandiri, mampu dan mau bekerja keras, demokratis, kreatif, kritis, komunikatif, memiliki rasa tanggung jawab, peduli terhadap lingkungan alam, peduli terhadap lingkungan sosial, cinta damai, cinta kepada tanah air, memiliki rasa kebangsaan yang tinggi, serta berprestasi dan menghargai prestasi. Dalam pendidikan karakter yang dicanangkan oleh kementrian, mata pelajaran adalah salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengembangkan nilai-nilai pribadi anak. Salah satu mata pelajaran yang bisa membantu anak meningkatkan dan mengembangkan daya nalarnya adalah mata pelajaran matematika.

Komponen Pendukung dan Implementasi Pendidikan Karakter

Dalam proses implementasi

pendidikan karakter, diperlukan beberapa komponen utama sebagai pendukung terwujudnya tujuan, yaitu isi dari kurikulum, kemudian proses dalam pembelajaran dan penilaian, pengolahan dan penanganan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, dan kegiatan di luar pembelajaran formal. Implementasi pendidikan karakter pada siswa, khususnya siswa sekolah dasar setiap nilai karakternya berbeda, pada nilai ketuhanan, seorang anak atau siswa dapat mempelajari nilai dan aturan agama yang diyakini. Lalu nilai kejujuran dengan tindakan dan perkataan yang tidak merugikan orang lain dan diri sendiri. Kemudian bertanggung jawab dengan menyelesaikan hal yang telah dimulai tanpa lepas tangan ketika hal yang dilakukan selesai.

Anak juga harus disiplin dengan selalu tepat waktu dan sesuai dengan aturan yang telah disepakati secara bersama, bekerja keras dalam menyelesaikan tugasnya yang diberikan oleh guru, yakin terhadap apa yang sudah anak tersebut kerjakan, kemudian anak juga harus memiliki jiwa inovatif dan mandiri dengan berkreasi dan mampu mempromosikan kreasinya. Selain itu anak juga harus kritis dan berpikir logis dengan terus bertanya terhadap apa yang sedang dihadapi dan mampu berpikir logis ketika menghadapi masalah. Implementasi pendidikan karakter dengan nilai demokratis adalah anak tersebut dapat membedakan hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Itulah beberapa contoh implementasi dari pendidikan karakter pada anak didik.

Pendidikan Karakter di Sekolah

Pendidikan Karakter~ Karakter merupakan hal yang pribadi untuk diketahui oleh semua orang, karena karakter seseorang terbaca tidak hanya dengan sekali atau duakali dalam berinteraksi melainkan kecenderungan untuk tetap selalu berinteraksi satu sama lain akan membuat satu sama lain mengerti akan karakter masing-masing.

Karakter seseorang merupakan penggabungan dari watak tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.

Kebijakan sendiri yang merupakan bagian dari karakter merupakan sejumlah nilai moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa.

Oleh sebab itu pendidikan yang merupakan suatu wadah pembentukan karakter bangsa sudah seharusnya lebih melibatkan pendidikan kearah atau mengutamakan akhlak untuk membentuk moral bangsa ini dengan baik tanpa harus dipengaruhi oleh arus globalisasi yang berdampak negatif.

Pendidikan karakter sendiri merupakan pendidikan yang dimana menanamkan nilai serta karakter kepada setiap warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia yang berkualitas akhlaknya.

Pendidikan karakter yang menyeluruh menitikberatkan pada pendidikan yang tidak hanya menjadikan setiap anak didiknya menjadi manusia yang cerdas serta berprestasi akan tetapi menjadikan mereka sebagai pelaku baik bagi perubahan dalam hidupnya sendiri, yang pada gilirannya akan menyumbangkan perubahan dalam tatanan sosial kemasyarakatan menjadi lebih adil, baik, dan manusiawi.

Dalam lembaga pendidikan yaitu sekolah, memiliki peran aktif untuk membentuk peserta didik dengan pendidikan yang berlabel karakter. Pendidikan karakter di sekolah sendiri merupakan sistem penanaman berupa komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter. Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal.

Para pakar pendidikan karakter sepakat bahwa pendidikan karakter dapat ditempuh melalui lembaga pendidikan yang berstatus formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya.

Konfigurasi karakter dalam kontek totalitas proses psikologis dan sosial-kultural dapat dikelompokkan dalam:

  1. olah hati (spiritual & emotional development);
  2. olah pikir (intellectual development);
  3. olah raga dan kinestetik (physical & kinesthetic development); dan
  4. olah rasa dan karsa (affective and creativity development).

Proses itu secara holistik dan koheren memiliki saling keterkaitan dan saling melengkapi, serta secara konseptual merupakan gugus nilai luhur bangsa Indonesia.

Pengertian, Tujuan, dan 18 Nilai Pendidikan Karakter Pengertian, Tujuan, dan 18 Nilai Pendidikan Karakter

Pendidikan merupakan suatu yang sangat urgen dalam setiap negara. Indonesia telah merubah dan menyempurnakan kurikulum hingga sekarang. Awalnya menggunakan KTSP sekarang telah menggunakan Pendidikan Karakter.
Pengertian, Tujuan, dan 18 Nilai Pendidikan Karakter
Penanaman Karakter Melalui Pendidikan Kepramukaan

Berlatar belakang bahwa nilai, norma, dan mental bangsa mulai surut, maka di situlah muncul ide untuk memperbaiki karakter bangsa Indonesia melalui pendidikan karakter. selain itu menurut Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Jadi sedah jelas, bahwa pendidikan merupakan kunci utama untuk menumbuhkembangkan karakter bangsa menjadi baik.

Dibawah ini akan dijelaskan tentang Pengertian, Tujuan, dan 18 Nilai Pendidikan Karakter di indonesia, sebagai berikut:

A.  Pengertian Pendidikan Karakter menurut para Ahli

1.   Menurut Suyanto (2009)
Pendidikan karakter adalah cara berfikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun Negara.
2.   Menurut Kertajaya (2010)
Pendidikan karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individe tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.
3.   Menurut Kamus Psikologi
Menurut kamus psikologi pendidikan karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. (Dali Gulo, 1982).
4.   Menurut Thomas Lickona
Pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

B.  Tujuan Pendidikan Karakter

Mensosialisasikan betapa pentingnya pendidikan yang berkarakter.

C.  18 nilai Pendidikan Karakter

Menurut Diknas mulai tahun ajaran 2011, seluruh pendidikan di Indonesia harus menyisipkan nilai-nilai pendidikan berkarakter kepada para siswa dalam proses pendidikannya. Ada 18 nilai-nilai pendidikan karakter, yaitu:

1.   Religius

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2.   Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3.   Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4.   Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5.   Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

6.   Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7.   Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8.   Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9.   Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan

Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13. Bersahabat/KomunikatifSikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

14. Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung Jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Demikian Pengertian, Tujuan, dan 18 Nilai Pendidikan Karakter, semoga dengan adanya nilai tersebut, pendidikan di Indonesia akan semakin maju dan berkualitas.