Program Pendidikan Karakter Di Indonesia

1. Asal mula Karakter

Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Dekdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter, adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, dan berwatak.

Karakter yang baik berari individu yang memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menempati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka dan tertib.

Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertidak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakter adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).

 

  1. Pengertian Pendidikan

Untuk mendefinisikan pengaertain pendidikan seringkali kita taerpaku pada landasan dan sumber yang sebelumnya kita baca. Adalah hal yang lumrah jika setiap orang mengemukakan definisi yang berbeda secara struktur kata dan bahasa, namun pada esensinya tetap sama mengerucut pada satu pemahaman yangtelah di sepakati bersama. Karena hal ini telah di rumuskan dalam pengertian pendidikan menurut UU No. 20 tahun 2003 yang menyatakan :

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Berdasarkan definisi UU No. 20 tahun 2003 di atas, kita menemukan ada 3 (tiga) pokok pikiran  utama yang terkandung di dalamnya, yaitu: (1) usaha sadar dan terencana; (2) mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya; dan (3) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan juga bisa di artikan sebagai suatu proses “memanusiakan manusia” dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak biasa menjadi biasa. Pendidikan juga bisa di definisikan sebagai pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.

Sedangkan pengertian lain dari pendidikan jika di lihat dari sudut pandang islam, pendidikan secara bahasa berarti tarbiyah. Diantara definisi tarbiyah secara istilah, yaitu proses menumbuhkan dan membentuk individu muslim yang lurus dan sempurna dari berbagai sudut aspek; baik aspek kesehatan, pemikiran (inteletual), akidah, ruhyah, kemaua dan kreatifitas.

  1. Pengertian Pendidikan Karakter

Dari urian diatas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan karakter adalah upaya pengajaran, penanaman karakter yang dilakukan terhadap peserta didik baik di lingkungan sekolah maupun dalam keluarga. Sehingga ini akan menghasilkan peserta didik yang berkarakter, berbudipekerti luhur, memiliki sifat tanggung jawab dan hal-hal lain yang mendukung keberhasilan dari pendidikan karakter ini.

 

  1. Urgensi Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dewasa ini bukan saja hal yang penting bagi sebuah lembaga pendidikan tetapi sudah menjadi kebutuhan yangharus diberikan kepada peserta didik, karena kebutuhan bagsa ini bukan hanya mencetak kemudian memiliki generasi yang cerdas secara nalar, pintar memiliki kopetensi yang baik saja tapi juga harus mencetak generasi yang memiliki moral baik, berbudi pekerti luhur memiiki integrits baik serta kejujuran yang di biasakan.

Jika kita amati fenomena yang terjadi dewasa ini sangat memalukan dan mencoreng muka pendidikan. Beberapa kasus yang terjadi seperti  tindakan kriminal, hancurnya moral dan ahlak generasi muda seperti tindakan kekerasan, tawuran, sex bebas sudah merajalela. Bukan hanya dalam lingkungan pemuda saja. Degradasi moral sudah mewabah pada para pejabat tinggi negara seperti maraknya kasus suap menyuap, politik uang, tindkan korupsi dan banyak kejahatan-kajahatan lain yang sangat merugikan bangsa ini. Oleh karena itu pendidikan karakter sangat diperlukan dalam duia pendidikan untuk mencetak generasi bangsa yang diharapkan.

 

  1. Program Pendidikan Karakter di Sekolah

Untuk mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter tentunya harus dimulai dari pendidikan. Pendidikan yang berkarakter akan membentuk pesrta didik yang berkarakter pula. Hal ini bukan sekedar penting tapi juga sudah merupakan kebutuhan yang mendasar agar manusia Indonesia bisa menjadi lebih baik dan semakinn membaik. Untuk itu perlu sebuah program yang di upayakn dalam pendidikan. Berdasarkan analisis sederhana dari berbagai sumber referensi dan selama mengikuti pembelajaran manajemen pendidikan karakter, kami mengajukan beberapa tahapan yang bisa di tempuh agar terciptanya pendidikan karakter yang terprogram sehingga bisa diterapkan dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah. Adapun program pendidikan karakter yang bisa di terapkan di sekolah adalah tahapanya sebagai berikut :

  1. Visi dan Misi Sekolah

Dalam hal pencapaian suatu tujuan di perlukan suatu perencanaan dan tindakan nyata untuk dapat mewujudkannya, secara umum bisa di katakan bahwa Visi dan Misi adalah suatu konsep perencanaan yang di sertai dengan tindakan sesuai dengan apa yang di rencanakan untuk mencapai suatu tujuan.

Penentuan visi dan misi selain akan membawa dampak pada proses dan terciptanya generasi yang berkarakter, juga akan meningkatkan mutu sebuah lembaga pendidikan. Peserta didik yangberhasil tentunya akan menjadi testimoni untuk lembaga itu sendiri. Disini diperlukanya sebuah analisis SWOT agar program pendidikan karakter mampu di laksanakan sesuai dengan tujuan pendidikann nasional dan sekaligus meningkatkan mutu lembaga pendidikan agar memiliki nilai jual yang mahal.

Visi adalah suatu pandangan jauh tentang lembaga pendidikan tujuan – tujuan lembaga pendidikan dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut pada masa yang akan datang. Visi itu tidak dapat dituliskan secara lebih jelas menerangkan detail gambaran sistem yang ditujunya, dikarenakan perubahan ilmu serta situasi yang sulit diprediksi selama masa yang panjang tersebut.

Visi merupakan hal pertama yang harus di tentukan untuk kemajuan sebuah lembaga pendidikan, hal ini sangat erat kaitanya dengan proses dan program-program pendidikan karakter yang akan di laksanakan di sekolah. Jika visi sekolah yang hanya mengedepankan kecerdasan secara nalar dan intelektual saja dan tidak ada tujuan untuk menjadikan peserta didiknya menjadi manusia yang berkarakter maka program pendidikan karakter di sekolah akan sulit untuk di terapkan. Karena visi biasanya menetukan aksi dan reaksi apa yang harus dilakukan untuk mencapai visi yang telah di tentukan.

Misi adalah pernyataan tentang apa yang harus dikerjakan oleh lembaga pendidikan dalam usahanya mewujudkan Visi. Misi lembaga pendidikan adalah tujuan dan alasan mengapa lembaga pendidikan itu ada. Misi juga akan memberikan arah sekaligus batasan proses pencapaian tujuan pembelajara yang dilangsungkan di sekolah. Misi yang berkarakter akan menentukan keberhasilan program pendidikan karakter yang akan diselenggarakan. Sudah sangat jelas kaitanya antara misi dan tercapainya program pendidikan karakter di sekolah. Jika saja misi sebuah lembaga pendidikan jauh dari implementasi nilai-nilai yang berkarakter dalam program pendidikan maupun kurikulumnya maka sangat sulit pula mewujudkan peserta didik yang berkarakter.

 

  1. Nilai- Nilai Karakter Yang Ditanamkan Secara Eksplisit

Ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas.  Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. Adapun 18 nilai karakter yang harus di tanamkan secara eksplisit adalah :

  1. Religius : Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain
  2. Jujur : Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
  3. Toleransi : Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
  4. Disiplin : Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
  5. Kerja keras : Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
  6. Kreatif : Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
  7. Mandiri : Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
  8. Demokratis : Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
  9. Rasa ingin tahu : Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih.
  10. Semangat kebangsaan : Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
  11. Cinta tanah air : Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
  12. Menghargai prestasi : Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
  13. Komunikatif : tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan oranglain.
  14. Cinta damai : Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
  15. Gemar membaca : Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
  16. Peduli lingkungan : Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
  17. Peduli sosial : Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
  18. Tanggung jawab : Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Penanaman 18 nilai-nilai karakter ini dilakukan secara eksplisit dan sitematis, yaitu dengan knowing the good, reasoning the good, feeling the good, dan acting the good ini akan berhasil membentuk karakter peserta didik.

Dengan knowing the good peserta didik terbiasa brfikir hanya yang baik-baik saja. Reasoning the good juga perlu dilakukan supaya peserta didik tahu mengapa ia harus berbuat baik. Kemudian feeling the good ini akan membangung perasaan peserta didik akan kebaikan. Peserta didik di arahkan untuk mencintai kebaikan. Kemudian dalam acting the good peserta didik akan terangsang seccara otomatis akan melakukan kebaikan. Jika peserta didik terbiasa melakukan knowing, reasoning, feeling dan acting the good, maka lama kelamaan peserta didik akan dengan sendirinya terbentuk karakter yang baik.

 

  1. Menciptakan Lingkungan Aman dan Menyenangkan

Program ini membangun lingkunga secara total agar terciptanya lingkungan yang kondusif untuk tumbuhnya siswa-siswa berkarakter. Lingkungan yang nyaman dan menyenangkan adalah mutlak diciptakan agar karakter peserta didik dapat dibentuk. Hal ini erat kaitanya dengan pembentukan emosi positif anak, dan selanjutnya mendukung proses pembentukan empati, cinta dan akhirnya nurani/batin peserta didik.

Sesuai dengan prinsif dasar pikiran bawah sadar bekerja sesuai dengan data yang telah tersimpan secara baik setelah melalui proses penyaringan di bagian critical area. Informasi yang akan masuk ke dalam pikiran bawah sadar ini sangat mempengaruhi terbentuknya karakter seseorang. Suasana yang menyenangkan dan aman akan memberikan dampak positif pada otak sebagai penghubung langsung antara pikiransadar dan pikiran bawah sadar seseorang.  Suasana yang menyenangkan akan merangsang otak limbik mengeluarkan hormon-hormon “cinta” yang akan membuat kerja bagian otak korteks menjadi optimal. Sebaliknya jika lingkungan sekolah atau pembelajaran penuh beban, ketakutan dan stress, tubuh akan mengeluarkan hormon-hormon stress yang akan mengaktifkan bagian otak reptil (batang otak) sehingga proses berfikir menjadi terganggu.

 

  1. Membuat kurikulum dan modul yangberbasis karakter

Bagaimanapun juga kualitas manusia pada hari ini adalah hasil dari produk pendidikan di masalalu. Begitu sangat berpengaruh besar pendidikan terhadap karakter bangsa. Hal yang memungkinkan dapat membentuk karakter peserta didik yang diharapkan sesuai dengan nilai-nilai yang telah di rumuskan oleh pemerintah adalah dengan memasukan ke delapan belas nilai itu dalam sebuah kurikulum yang berkarakter.

Kurikulum yangterjadi pada saat ini dari mulai SD sampai Perguruan tinggi adalah dominan mengarahkan peserta didik hanya pada pola pikir yang linear saja. Akhirnya pola pikir, prilaku, sifat terbentuk dari pola pendidikan yang diberikan sebelumnya. Sangat minim generasi yang memiliki sifat kratif, inovatif dan berkeinginan membuka sesuatu yang baru. Hal ini sudah cukup di buktikan dengan pola pkirir generasi bangsa yang berfikir setelah menyelesaikan pendidikan adalah sebuah keharusan mencari lapangan pekerjaan. Sangat sedikit dari prodak pendidikan kita yang berfikir untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Akhirnya pemerintah kewalahan dengan semakin bertambahnya angka pengangguran yang terdidik. Padahal jika pendidikan ini betul-betul sadar pentingnya pendidikan karakter maka fonomena seperti ini tidak akan terjadi. Pola pikir menciptakan sesuatu yang baru adalah bersikap kreatif, mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri yang akan meminimalisir ketergantungan terhadap orang lain.

Kurikulum atau modul yang berbasis karakter akan memberikan pengarahan secara perlahan pada pola pikir dann tindakan peserta didik, karena secara perlahan pula karakter akan terbentuk bertahap dan tertanam pda pikiran bawahsadarnya sehingga ini akann bersifat Long Term Memory atau ingatan jangka panjang. Sehingga manusia yangber karakter memiliki konsep dan pola pikir yang terbuka sesuai dengan 18 nilai yang telah dirumusan oleh pemerintah.

Kurikulum dan modul yang berbasis karakter akan memberikan sebuah repetisi atau pengulangan berkala pada setiap pelajaran atau materi yang disampaiakn pada peserta didik. Repetisi merupakan salah satu cara untuk menanamkan pada peserta didik. Karena sesuatu yang di repetisi akan secara perlahan tertanam dalam pikiran bawah sadar peserta didik dan membentuk karakternya.

 

  1. Guru yang Berkarakter

Guru yang berkarakter idealnya memiliki beberapa kompetensi. Pertama, kompetensi pedagogik, meliputi kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik dan melakukan evaluasi. Kedua, kompetensi kepribadian. Seorang guru harus memliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan dapat menjadi teladan. Pemikikan sifat-sifat kepribadian yang di maksud adalah (a) berakhlak mulia, (b) arif dan bijaksana, (c) mantap, (d) berwibawa, (e) stabil, (f) dewasa, (g) jujur, (h) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, (i) secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan  (j) mau dan siap mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan. Guru juga harus memiliki kompetensi profesional dan sosial.  Sehingga disamping profesional menjalankan tugas sebagai pendidik, para guru juga di harapkan mampu bergaul secara porpisional dengan peserta didik dan masyarakat.

Guru yang berkarakter adalah minimal memiliki kemampuan seperti yang telah di sebutkan sebelumnya. Menjadi figur otoritas peserta didik dengan memberikan teladan yang baik yang mungkin akan ditiru oleh pserta didik.

Guru yang berkarakter selain memiliki jiwa profesionalisme juga memiliki sifat yag lemah lembut kepada peserta didiknya. Mendididik karakter dengan  karakter adalah hal yang memungkinkan keberhasilan pendidikan.

Berlaku kasar terhadap siswa akan membahayakan mereka. Misalkan melampaui batas dalam pembelajaran, itu akan membahayakan untuk peserta didik, terlebih jika merekamasih di usia dini yang masih memiliki kemampuan yang buruk. Barangsiapa yangterdidik dalam lingkungan yang keras dan anarikis, baik pelajar, budak sekalipun pembantu, itu hanya akan membuat mereka selalu di bayang-bayangi dengan perasaan terpaksa tidak bergairah dan menghilangkan vitalitas belajarnya. Itu hanya akan mengajaknya kepada sifat malas, mendorong berdusta dan sifat jelek yaitu berpura-pura tampil berbeda dengan kenyataan hatinya yang tertekan dengan pola pendidikan yang tidak sesuai dan tidak menyenangkan.

 

  1. Alat bantu pendidikan berbasis karakter

Selain penekanan terhadap guru yang harus memiliki karakter, para guru juga harus di bekali alat bantu dalam proses pendidikan. Seperti modul, kurikulum. Contoh ketika sekolah memiliki tujuan untuk menumbuhkan karakter yang gemar membaca, maka disediakan juga fasilitas berupa perpustakaan yang menarik minat pesrta didik untuk membaca, sehingga guru tidak susah untuk mengarahkanya.

 

  1. Kerjasama Antara Sekolah Anda Orangtua

Orangtua dilibatkan secara aktif dalam usaha pengambangan karakter peserta didik. Salah satu faktor keberhasilan pendidikan karakter adalah adanya konsistensi antara sekolah dan rumah mengenai penerapan pilar-pilar karakter yang ditanamkan.

Para orangtua juga sebaiknya dihimbau untuk membaca buku-buku yang berhubungan dengan pendidikan karakter agar lebih mudah mengarahkan peserta didik dan sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan karakter pada peserta didik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s